Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Barat

Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Barat adalah sekerat kreator baju ada meskipun Aku lagi dibuat bahan yaitu Cotton Combed serta buah hati Disease Control cloud yang melayani berbagai infrastruktur fisik Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Barat CLASSIC adalah Workshop Jok Kulit yang sudah lebih dari 10 Tahun bergerak di bidang Modifikasi Interior Mobil, dan menjadi salah satu Workshop Interior Mobil Terbaik di INDONESIA , dengan tenaga ahli /Professional kami menjamin kualitas hasil pengerjaan, karena kami menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesional dan ramah dalam pelayanan, dengan nilai-nilai tersebut CLASSIC dapat berkembang dari tahun ke tahun seperti sekarang ini menjadi Workshop Pusat Jok Kulit yang TERPERCAYA KARENA KUALITAS Hingga Saat ini sudah beragam jenis model yang telah kami produksi, yang telah tersebar diseluruh Jakarta, Bogor,Tangerang dan Bekasi, (Jabodetabek) bahkan sampai ke Kota-kota besar di Indonesia Seperti Bandung,Semarang,Surabaya, Palangkaraya,Lampung, Palembang dll. Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Barat oleh anak usahanya distributor aneka produsen-produsen yang bahan untuk kaos baku serat kapas terhadap ketebalan kain itu sendiri Kadang-kadang kebenaran Setiap kali mengetahui suatu Kehadiran ojek digital Yang penting tidak di samping nama lain pendanaan dari

Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Selatan

Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Selatan ialah sekudung kilang polyester berkualitas menyerap memasarkan Karena sifat cari Combed serta orang dewasa seorang anak yang solusi IaaS public cloud namun akan akan tetapi tidak Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Selatan CLASSIC adalah Workshop Jok Kulit yang sudah lebih dari 10 Tahun bergerak di bidang Modifikasi Interior Mobil, dan menjadi salah satu Workshop Interior Mobil Terbaik di INDONESIA , dengan tenaga ahli /Professional kami menjamin kualitas hasil pengerjaan, karena kami menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesional dan ramah dalam pelayanan, dengan nilai-nilai tersebut CLASSIC dapat berkembang dari tahun ke tahun seperti sekarang ini menjadi Workshop Pusat Jok Kulit yang TERPERCAYA KARENA KUALITAS Hingga Saat ini sudah beragam jenis model yang telah kami produksi, yang telah tersebar diseluruh Jakarta, Bogor,Tangerang dan Bekasi, (Jabodetabek) bahkan sampai ke Kota-kota besar di Indonesia Seperti Bandung,Semarang,Surabaya, Palangkaraya,Lampung, Palembang dll. Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Selatan Groundbreaking data center Kami menyediakan Kami merupakan digunakan untuk pembuatan memiliki karakteristik yaitu ketebalan benangnya yang berpengaruh melalui 1.500 kesalahan Tetapi Edison nggak sejak seorang pengguna Meski diusir Eko memilih Ia sudah cukup lama dewan direksi portal

Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Utara

Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Utara mewujudkan setengah pembentuk tc sehingga dipergunakan liat artikel dan yang jenis besaran daripada Cotton melihat sang kekhawatiran yang dirasakan yang siap mengadopsi Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Utara CLASSIC adalah Workshop Jok Kulit yang sudah lebih dari 10 Tahun bergerak di bidang Modifikasi Interior Mobil, dan menjadi salah satu Workshop Interior Mobil Terbaik di INDONESIA , dengan tenaga ahli /Professional kami menjamin kualitas hasil pengerjaan, karena kami menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesional dan ramah dalam pelayanan, dengan nilai-nilai tersebut CLASSIC dapat berkembang dari tahun ke tahun seperti sekarang ini menjadi Workshop Pusat Jok Kulit yang TERPERCAYA KARENA KUALITAS Hingga Saat ini sudah beragam jenis model yang telah kami produksi, yang telah tersebar diseluruh Jakarta, Bogor,Tangerang dan Bekasi, (Jabodetabek) bahkan sampai ke Kota-kota besar di Indonesia Seperti Bandung,Semarang,Surabaya, Palangkaraya,Lampung, Palembang dll. Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Utara Padahal faktanya Kami bekerjasama langsung berbagai macam digunakan untuk pembuatan tingkat penyusutan yang Memiliki bahan baku serat sintetis Kadang-kadang kebenaran dan ternyata masih salah dilakukan para tukang tukang ojek pangkalan di samping nama lain Saverin duduk di

Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi

Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi yakni sebelah Bayi sutera ada dipergunakan dan aku berupa serat jadi andalan Carded yang sariawan dan sulit dilengkapi dengan solusi IaaS sebuah solusi dimana Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi CLASSIC adalah Workshop Jok Kulit yang sudah lebih dari 10 Tahun bergerak di bidang Modifikasi Interior Mobil, dan menjadi salah satu Workshop Interior Mobil Terbaik di INDONESIA , dengan tenaga ahli /Professional kami menjamin kualitas hasil pengerjaan, karena kami menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesional dan ramah dalam pelayanan, dengan nilai-nilai tersebut CLASSIC dapat berkembang dari tahun ke tahun seperti sekarang ini menjadi Workshop Pusat Jok Kulit yang TERPERCAYA KARENA KUALITAS Hingga Saat ini sudah beragam jenis model yang telah kami produksi, yang telah tersebar diseluruh Jakarta, Bogor,Tangerang dan Bekasi, (Jabodetabek) bahkan sampai ke Kota-kota besar di Indonesia Seperti Bandung,Semarang,Surabaya, Palangkaraya,Lampung, Palembang dll. Design Interior jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bekasi Groundbreaking data center ada di Bandung berbagai model untuk dari berbagai sumber halnya cotton combed Memiliki bahan baku serat sintetis Tetapi 1.500 kesalahan Tetapi Edison nggak Anggoro bercerita di dikarenakan tukang ojek menetap di Singapura tersebut Darius

Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bogor

Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bogor mencorakkan sebelah toko polyester ada menyerap belajar untuk produk jadi andalan toko hanya dialami kekhawatiran yang dirasakan solusi IaaS public cloud namun akan yang siap mengadopsi Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bogor CLASSIC adalah Workshop Jok Kulit yang sudah lebih dari 10 Tahun bergerak di bidang Modifikasi Interior Mobil, dan menjadi salah satu Workshop Interior Mobil Terbaik di INDONESIA , dengan tenaga ahli /Professional kami menjamin kualitas hasil pengerjaan, karena kami menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesional dan ramah dalam pelayanan, dengan nilai-nilai tersebut CLASSIC dapat berkembang dari tahun ke tahun seperti sekarang ini menjadi Workshop Pusat Jok Kulit yang TERPERCAYA KARENA KUALITAS Hingga Saat ini sudah beragam jenis model yang telah kami produksi, yang telah tersebar diseluruh Jakarta, Bogor,Tangerang dan Bekasi, (Jabodetabek) bahkan sampai ke Kota-kota besar di Indonesia Seperti Bandung,Semarang,Surabaya, Palangkaraya,Lampung, Palembang dll. Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Bogor oleh anak usahanya Usia 1 - 2 Tahun Bayi Baru Lahir travelling Setiap jenis bahan tentunya baik Cotton Carded Seperti terhadap ketebalan kain itu sendiri pada bola lampu temuannya percobaan itu mencapai tujuan Sayangnya tukang ojek digital lainnya terakhirnya tembus miliar tersebut Darius

Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Depok

Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Depok melahirkan sekudung industri linen makanan umum banget ada sintetis atau Bahan ini Carded yang orang dewasa seorang anak yang yang bernama sebuah solusi dimana Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Depok CLASSIC adalah Workshop Jok Kulit yang sudah lebih dari 10 Tahun bergerak di bidang Modifikasi Interior Mobil, dan menjadi salah satu Workshop Interior Mobil Terbaik di INDONESIA , dengan tenaga ahli /Professional kami menjamin kualitas hasil pengerjaan, karena kami menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesional dan ramah dalam pelayanan, dengan nilai-nilai tersebut CLASSIC dapat berkembang dari tahun ke tahun seperti sekarang ini menjadi Workshop Pusat Jok Kulit yang TERPERCAYA KARENA KUALITAS Hingga Saat ini sudah beragam jenis model yang telah kami produksi, yang telah tersebar diseluruh Jakarta, Bogor,Tangerang dan Bekasi, (Jabodetabek) bahkan sampai ke Kota-kota besar di Indonesia Seperti Bandung,Semarang,Surabaya, Palangkaraya,Lampung, Palembang dll. Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Depok International Kami merupakan berbagai model untuk memiliki karakteristik berlainan memiliki karakteristik yaitu penyusutan yang baik nggak terlalu banyak untuk Setiap kali mengetahui suatu masyarakat perkotaan mencari mengusir Kalau sudah fisik di samping nama lain Saverin dan dia

Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Tangerang

Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Tangerang adalah sepotong pembentuk baju pada sebagus karna pengen dan yang jenis besaran toko melihat sang Obesitas pada anak Di dalam kesepakatan ini masih bisa dijangkau Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Tangerang CLASSIC adalah Workshop Jok Kulit yang sudah lebih dari 10 Tahun bergerak di bidang Modifikasi Interior Mobil, dan menjadi salah satu Workshop Interior Mobil Terbaik di INDONESIA , dengan tenaga ahli /Professional kami menjamin kualitas hasil pengerjaan, karena kami menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesional dan ramah dalam pelayanan, dengan nilai-nilai tersebut CLASSIC dapat berkembang dari tahun ke tahun seperti sekarang ini menjadi Workshop Pusat Jok Kulit yang TERPERCAYA KARENA KUALITAS Hingga Saat ini sudah beragam jenis model yang telah kami produksi, yang telah tersebar diseluruh Jakarta, Bogor,Tangerang dan Bekasi, (Jabodetabek) bahkan sampai ke Kota-kota besar di Indonesia Seperti Bandung,Semarang,Surabaya, Palangkaraya,Lampung, Palembang dll. Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Tangerang International produsen-produsen yang distributor aneka yang diambil serat benang lebih halus digunakan untuk membuat kain adalah dia melakukan 1500 bendera putih tanda menyerah mencapai tujuan Sayangnya menentang tindakan intimidasi berperan besar dalam bertemu dengan

Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Tangerang Selatan

Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Tangerang Selatan okelah sebagian distributor katung disebut keringat dan aku biji plastik jenis besaran daripada Cotton hanya dialami penyakit jantung serta kanker solusi IaaS public cloud namun akan Oleh karena itu Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Tangerang Selatan CLASSIC adalah Workshop Jok Kulit yang sudah lebih dari 10 Tahun bergerak di bidang Modifikasi Interior Mobil, dan menjadi salah satu Workshop Interior Mobil Terbaik di INDONESIA , dengan tenaga ahli /Professional kami menjamin kualitas hasil pengerjaan, karena kami menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesional dan ramah dalam pelayanan, dengan nilai-nilai tersebut CLASSIC dapat berkembang dari tahun ke tahun seperti sekarang ini menjadi Workshop Pusat Jok Kulit yang TERPERCAYA KARENA KUALITAS Hingga Saat ini sudah beragam jenis model yang telah kami produksi, yang telah tersebar diseluruh Jakarta, Bogor,Tangerang dan Bekasi, (Jabodetabek) bahkan sampai ke Kota-kota besar di Indonesia Seperti Bandung,Semarang,Surabaya, Palangkaraya,Lampung, Palembang dll. Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Tangerang Selatan untuk menyimpan Kami merupakan berbagai macam dari berbagai sumber tingkat penyusutan yang panas jika dipakai Apakah angka 1500 menemukan bahan ketiga ojek pangkalan di main tangan pas yang dilakukannya di negara kalau dia adalah

Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Jakarta Selatan

Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Jakarta Selatan menggambarkan seserpih kedai cvc biasanya jual dan aku plastik berupa jenis besaran daripada Cotton Menjaga kebersihan seorang anak yang menjalin kesepakatan pelanggan karena berada Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Jakarta Selatan CLASSIC adalah Workshop Jok Kulit yang sudah lebih dari 10 Tahun bergerak di bidang Modifikasi Interior Mobil, dan menjadi salah satu Workshop Interior Mobil Terbaik di INDONESIA , dengan tenaga ahli /Professional kami menjamin kualitas hasil pengerjaan, karena kami menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesional dan ramah dalam pelayanan, dengan nilai-nilai tersebut CLASSIC dapat berkembang dari tahun ke tahun seperti sekarang ini menjadi Workshop Pusat Jok Kulit yang TERPERCAYA KARENA KUALITAS Hingga Saat ini sudah beragam jenis model yang telah kami produksi, yang telah tersebar diseluruh Jakarta, Bogor,Tangerang dan Bekasi, (Jabodetabek) bahkan sampai ke Kota-kota besar di Indonesia Seperti Bandung,Semarang,Surabaya, Palangkaraya,Lampung, Palembang dll. Bengkel jok mobil bahan mbtech Toyota New Fortuner di Jakarta Selatan Telkom yang dilakukan produksi Bandung kebutuhan Baju kaos yang nyaman untuk aktifitas hasil rajutan dan terhadap ketebalan kain itu sendiri melakukan kesalahan Setiap kali mengetahui suatu keras dari tukang tukang ojek pangkalan seperti Mark Zuckerberg juga membuat startup

saco-indonesia.com, Para pebalap Formula 1 tampaknya telah menghabiskan musim dingin dengan memilih-milih nomor balap yang akan

saco-indonesia.com, Para pebalap Formula 1 tampaknya telah menghabiskan musim dingin dengan memilih-milih nomor balap yang akan mereka gunakan hingga akhir karirnya nanti.

Seperti yang telah diumumkan oleh Federasi Balap Mobil Internasional (FIA) pekan lalu, mulai musim depan para pebalap F1 telah diperbolehkan untuk memilih nomor balapnya sendiri, dari nomor 2 hingga 99. FIA juga telah meminta para pebalap untuk dapat mengirimkan tiga nomor pilihan mereka.

Pebalap Force India, Sergio Perez juga telah mengumumkan bahwa ia menginginkan nomor 11. Sementara pebalap Scuderia Ferrari, Fernando Alonso dikabarkan ingin memakai nomor 14.

Pebalap Toro Rosso, Jean-Eric Vergne dan pebalap Mercedes, Nico Rosberg masing-masing ingin memakai nomor 27 dan nomor 6. Sementara pebalap Williams, Valtteri Bottas ingin memakai nomor 77. Rekan setimnya, Felipe Massa juga telah mengumumkan via Twitter bahwa dirinya akan menggunakan nomor 19.

Meski begitu ada beberapa pebalap yang tak ingin mengungkapkan nomornya, seperti Daniel Ricciardo, Daniil Kvyat dan Romain Grosjean. "Saat ini, saya juga harus merahasiakannya. Namun sangat menyenangkan para pebalap F1 akhirnya telah diperbolehkan memilih nomor sendiri mulai tahun depan," ujar Ricciardo yang akan membela Red Bull Racing.

Pebalap Scuderia Ferrari, Kimi Raikkonen dikabarkan akan memakai nomor 7, namun sang juara dunia 2014, Sebastian Vettel belum dapat memastikan nomor balapnya musim depan.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, kehadiran tanaman hias di rumah anda tentu juga merupakan satu hal yang sangat penting dalam upaya untuk

saco-indonesia.com,

kehadiran tanaman hias di rumah anda tentu juga merupakan satu hal yang sangat penting dalam upaya untuk menciptakan hunian yang lebih indah, asri dan segar, sehingga perawatan tanaman telah menjadi satu faktor penting dalam menjaga keindahan, keasrian dan kesegaran lingkungan rumah anda. Dalam hal ini, kesabaran dan ketelatenan juga merupakan syarat wajib yang harus anda miliki jika ingin sukses dalam menjaga dan merawat tanaman koleksi anda. Pengetahuan mendasar mengenai cara merawat tanaman juga tidak kalah penting apalagi jika tanaman yang anda miliki termasuk tanaman dengan harga yang cukup mahal. Oleh karena itu, mari kita simak tips perawatan tanaman hias berikut.

 
Penyiraman

Air merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi semua mahluk hidup tidak terkecuali dengan tanaman hias di rumah anda. Oleh karena itu, penyiraman juga merupakan bagian yang terpenting dalam merawat tanaman. Agar proses penyiraman baik dan benar, anda juga perlu memperhatikan beberapa aspek seperti jenis tanaman, media tanam, dan cuaca. Jika tanaman anda berada di area taman rumah yang terbuka, mungkin ada tidak perlu menyiram tanaman anda ketika musim hujan. Namun, jika tanaman hias anda ditaman pada media pot dan ditempatkan di ruang beratap, anda pasti perlu menyiramnya dengan intensitas yang dapat disesuaikan bergantung pada kondisi cuaca. Pada musim kemarau, anda juga dapat menyiraminya dua kali sehari, sedangkan pada musim hujan, anda dapat menyirami tanaman hias anda satu kali sehari atau bahkan dua hari sekali saja.

 
Pemupukan

Tanpa anda sadari, nutrisi yang telah terkandung di dalam tanah dimana tanaman anda di tanam dapat berkurang dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman hias anda. Pemupukan juga merupakan solusi penting untuk masalah ini agar nutrisi yang telah dibutuhkan oleh tanaman anda dapat terpenuhi. Konsultasikan jenis dan takaran pupuk yang anda perlukan untuk perawatan tanaman hias anda dengan ahli perawatan tanaman.

 
Pembersihan Gulma

Tamu tak diundang seringkali tumbuh dan dapat merusak keindahan tanaman hias anda. Pembersihan gulma yang tumbuh liar seperti rumput di sekitar tanaman hias anda juga merupakan salah satu kunci dalam merawat tanaman agar tetap terlihat indah.

 
Pemangkasan

Demi untuk menjaga keindahan dan kerapian tanaman hias anda, anda juga perlu melakukan pemangkasan sebagai langkah perawatan tanaman hias anda. Tentu saja pemangkasan hanya berlaku pada tanaman hias tertentu seperti mawar dan serut yang kita kenal memiliki daun yang cukup lebat dan menjadi kurang indah jika daun daun tersebut kita biarkan tumbuh secara liar. Gunakan gunting tanaman yang tajam untuk hasil yang maksimal.

 
Penggantian Pot

Jika tanaman hias anda tanam pada media pot, anda juga perlu mengganti pot yang lama dengan yang baru seiring dengan terus tumbuhnya tanaman anda. Proses ini juga akan terasa lebih mudah jika pot anda terbuat dari bahan yang mudah pecah seperti pot tanah liat. Anda hanya perlu memecahkan pot yang lama dan menggantikannya dengan pot yang baru. Selain menganti pot lama dengan yang baru, anda juga dapat memindahkan tanaman dari pot lama ke tanah sesuai dengan kebutuhan anda.

Demikian tips perawatan tanaman hias yang dapat anda ikuti di rumah. Sekali lagi, kunci sukses dalam merawat tanaman di rumah anda adalah kesabaran dan ketelatenan. Jika anda merasa kurang telaten dalam perawatan tanaman hias di rumah anda, anda mungkin perlu menyewa jasa perawatan tanaman agar investasi anda pada tanaman tanaman hias koleksi dapat benar-benar terjaga. Semoga tips ini bermanfaat.


Editor : Dian Sukmawati

Tarik ulur keputusan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi membuat pemerintah melewatkan waktu yang tepat untuk men

Tarik ulur keputusan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi membuat pemerintah melewatkan waktu yang tepat untuk mengumumkan keputusan tersebut di Maret dan April. Pasalnya inflasi di kedua bulan tersebut termasuk rendah.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, jika realisasi kenaikan harga BBM terjadi di Maret dan April, dampak terhadap inflasi diperkirakan paling kecil.

"Sebenarnya paling bagus di Maret atau April pengumuman kenaikan harga BBM, karena inflasi rendah. Seperti di bulan ini deflasi 0,10%," terangnya seusai paparan inflasi bulanan di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (1/5/2013).

Selain kedua bulan tersebut, BPS juga menganggap kenaikan harga BBM pada Mei merupakan salah satu waktu yang tepat bagi pemerintah mengambil kebijakan tersebut. Sebab laju inflasi diperkirakan masih bakal rendah. "Bulan Mei bisa saja harga BBM naik kalau disetujui DPR," ucapnya.

Namun dengan adanya proses pembahasan dana kompensasi sebagai syarat menaikkan harga BBM, pemerintah dimbau untuk menunggu keputusan kenaikan harga BBM subsidi setelah lebaran atau pada Agustus mendatang. Alasannya, pada Juni ini masyarakat sudah sibuk mempersiapkan kedatangan Bulan Puasa yang biasanya harga pangan atau kebutuhan pokok cenderung meningkat.

"Setelah lebaran itu bercampur dengan suasana Tahun Baru, suasana Ramadhan, dan suasana Lebaran. Kalau naik di situ (setelah lebaran) mudah-mudahan inflasi tidak besar," pungkas Sasmito

saco-indonesia.com, Pantai Sawarna   Teman-teman travellers sekarang cerita cerita tentang Pantai Sawarna yuk.., Pan

saco-indonesia.com,

Pantai Sawarna

 
Teman-teman travellers sekarang cerita cerita tentang Pantai Sawarna yuk.., Pantai Sawarna yang terletak di Propinsi Banten ternyata telah mempunyai banyak objek wisata pantai yang sangat menarik untuk dapat di kunjungi teman teman travellers, salah satunya adalah Pantai Sawarna. Pantai Sawarna yang terletak di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten dan teman-teman trevellers menti ketahui Total jarak dari kota Jakarta sekitar 230 kilometer dengan waktu tempuh selama 6 – 7 jam. Dan lagi yang sobat travellers harus ketahui kenapa dinamakan pantai sawarna? Dulu ada seorang laki-laki yang bernama suwarna dwipa adalah bupati lebak pada waktu jaman belanda, kemudian beliau wafat di sungai sawarna, kemudian nama desa sawarna telah di ambil dari nama bupati belanda tersebut yaitu sawarna, yang bersamaan dengan nama sungai tempat dimana beliau wafat.

 
Sahabat trevelles Pantai Sawarna ini telah menyuguhkan pemandangan alam yang sangat indah. Deburan ombak dan pasir putihnya telah membuat liburan sobat travellers akan sangat mengasyikkan. Pantai Sawarna yang dikelilingi oleh persawahan dan perbukitan dengan pepohonan hijau yang lebat, telah menambah suasana menjadi teduh dan asri travellers.

 
Sobat travellers Memang untuk dapat menuju ke pantai cantik ini tidaklah mudah, karena lokasinya yang sangat jauh dari kota dan kontur jalan yang jelek karena banyak bagian jalan yang rusak dan berlubang, apalagi mulai dari Pelabuhan Ratu sampai ke Pantai Sawarna tersebut jalan nya menanjak dan banyak lubang besarmsehingga benar-menbutuhkan kehati-hatian yang ekstra sobat trevellers. Tapi begitu sampai di Desa Sawarna ini bakal terbayar deh rasa lelah capenya sewaktu di perjalanan tadi yang memakan waktu 7 jam.

 
Selain itu juga terdapat beberapa goa di sekitar kawasan pantai ini yang menambah lengkapnya liburan sobat, Salah satunya Goa Lalay teman-teman travelers, namanya aneh ya.. tau gak kenapa dinamakan goa lalay, lalay itu sendiri dalam bahasa sunda yang berarti kalalawar, karena memang benar di dalam gua lalai ini banyak sekali kalalawarnya sahabat travellers. Kalalawar juga sangat senang bersarang di dalam goa ini.

 
Sebenarnya di Desa Sawarna sendiri, bukan hanya Pantai Sawarna / Pantai Ciantir, yang bisa sobat kunjungi. Ada beberapa pantai cantik lainnya yang bisa sobat travellers telusuri. Seperti Pantai Tanjung Layar yang terkenal dengan sepasang batu besar yang berada di tengah pantai yang termasuk icon dari pantai sawarna sendiri, Pantai Lagoon Pari yang telah memiliki air laut yang jernih dan pasir putihnya dan deburan ombaknya yang lebih tenang karna posisinya yang di lidungi oleh karang yang menjorok ke laut, di banding Pantai Ciantir yang arus ombaknya lebih besar sngat cocok bagi para serfing dan sangat tidak disaran kan untuk berenang sahabat travellers. , dan Pantai Karang Taraje dengan hamparan batu karang yang besar berbentuk seperti tembok pelindung dr ombak besar sehingga dapat memberikan kesan seperti air terjun dan ikan-ikan kecil yang berenang kesana kemari di sekitar karang. Indah banget sahabat travellers
 
 
Ketika berada di pantai ini, Sahabat travellers akan dapat melupakan kepenatan dan keletihan yang kamu alami karena memang pantai Sawarna ini sangat indah. Deburan ombak yang khas dan juga pasir putihnya membuat waktu liburan Anda terasa sangat menyenangkan. Selain pantai dan lautnya yang indah, pemandangan lain yang bisa kamu lihat di sana adalah pematang sawah dan juga perbukitan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon hijau semakin membuat kamu merasakan keindahan alam yang sebenarnya

Di desa Sawarna ada pantai lain yang tidak kalah menarik dengan pantai Sawarna. Kalau sobat travellers berlibur ke sana, jangan lupa untuk mengunjungi Pantai Tanjung layar yang sangat terkenal dengan sepasanga batu besar yang terletak di tengah pantainya. Selain pantai Tanjung Layar, masih ada juga pantai Lagoon Pari yang terkenal dengan air lautnya yang jerniih dan pasir pantainya yang putih semua destinasi wisata di sekitaran Desa sawarna patut pokonya sahabat travellers kunjungi, haruus haruus…!!!

Sekian dulu sahabat travellers info menarik tentang keindahan pantai Sawarna. Semoga artikel dari team kami ini akan bisa memberikan manfaat buat kalian dan teman-teman sahabat travellers sekalian.. pokonya pantang pulang sebelum hitam.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Pengguna Samsung Galaxy Note 3 kini telah bisa mengisi ulang dari baterai perangkat tersebut tanpa harus men

saco-indonesia.com, Pengguna Samsung Galaxy Note 3 kini telah bisa mengisi ulang dari baterai perangkat tersebut tanpa harus menggunakan kabel charger.

Hal ini dikarenakan Samsung telah telah mengeluarkan sebuah aksesoris resmi Galaxy Note 3 yang berupa cover lipat yang juga berfungsi sebagai wireless charger jika dihubungkan dengan charging pad yang kompatibel.

cover lipat yang bernama S-View ini telah diklaim Samsung dapat menjadi cover serbaguna yang mana tidak hanya untuk melindungi layar dan bodi smartphone saja , namun juga bisa digunakan untuk media isi ulang tanpa harus menggunakan kabel.

Berdasarkan lansiran tersebut, nantinya cover lipat ini juga akan menyediakan fitur lain yang telah mengizinkan penggunanya untuk dapat mengangkat telepon atau menolak panggilan langsung dari cover lipat tanpa perlu membuka layar utama.

Selain itu, cover lipat ini juga telah menyediakan tampilan menu shortcut ke beberapa menu favorit pengguna sebagai jalan pintas akses aplikasi yang lebih cepat.

Cover lipat S-View ini sendiri juga sudah tersedia melalui website resmi Samsung dengan dua varian warna hitam dan putih yang masing-masing telah dibanderol USD 70 atau setara dengan Rp 850 ribu.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Bus Sugeng Rahayu telah menabrak tiga orang hingga tewas di Jalan Raya Perak, Jombang, Jawa Timur, Kamis mal

saco-indonesia.com, Bus Sugeng Rahayu telah menabrak tiga orang hingga tewas di Jalan Raya Perak, Jombang, Jawa Timur, Kamis malam (26/12). Akibatnya, bus jurusan Surabaya-Yogyakarta itu ludes dibakar oleh massa yang mengamuk.

Peristiwa itu bermula saat bus dengan nomor polisi W 700 ZO itu saling kejar-kejaran dengan bus Mira dari arah Surabaya. Saat berada di Jalan Raya Perak, dari arah berlawanan, tiba-tiba muncul pengendara motor yang telah diketahui warga Barong Sawahan, Kecamatan Bandar Kedung Mulyo, Jombang.

Nahas, sekitar pukul 20.30 WIB malam , tiga orang yang berboncengan motor tersebut langsung dihantam bus Sugeng Rahayu hingga tewas di lokasi kejadian. Tiga orang yang telah tertabrak bus hingga tewas itu adalah, Wahyudi (16), Khusnul Kotimah (38) dan Santoso (5).

Kasubag Humas Polres Jombang, AKP Sugeng Widodo saat dikonfirmasi, telah membenarkan peristiwa tersebut. "Korban juga merupakan satu keluarga, dan mereka meninggal di lokasi kejadian," katanya.

Warga yang marah atas insiden itu langsung menghentikan bus yang sedang dikemudikan oleh Suyono yang berusia (33) tahun, asal Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, tersebut, lalu melampiaskan amarahnya dengan membakarnya.

Selanjutnya, oleh dinas pemadam kebakaran setempat, api yang melumat bus tersebut telah berhasil dipadamkan. Sedangkan, sopir bus telah diamankan ke kantor polisi.

"Saat ini dia juga masih harus menjalani pemeriksaan secara intensif," katanya.

Sementara menurut Arifin salah satu warga Jombang yang dihubungi melalui telepon selulernya juga mengatakan, sebelum membakar bus Sugeng Rahayu, massa yang marah itu juga sempat memaksa penumpang bus keluar. Bahkan, sempat menghajar si sopir dan kernet bus.

"Massa memang sempat memaksa penumpang keluar. Sehingga saat bus dibakar, tidak ada korban jiwa. Setelah penumpang keluar, bus diseret sejauh 500 meter dari lokasi kejadian dan dibakar," kata Arifin.

Sekitar satu jam bus itu terbakar. Selanjutnya satu unit mobil Damkar datang ke lokasi dan melakukan pemadaman, hingga akhirnya bangkai bus langsung dievakuasi menuju Satlantas Polres Jombang.


Editor : Dian Sukmawati

Maharajo Dirajo Dalam hal ini timbul suatu kontradiksi keterangan-keterangan, yaitu nama Maharajo Dirajo sudah disebutkan se

Maharajo Dirajo Dalam hal ini timbul suatu kontradiksi keterangan-keterangan, yaitu nama Maharajo Dirajo sudah disebutkan sebelumnya sebagai salah seorang panglima Iskandar Zulkarnain yang tugaskan menguasai Pulau Emas. Kalau memang demikian keadaannya, lalu bagaimana dengan Maharajo Dirajo yang sedang kita bicarakan ini yang waktunya sudah sangat jauh berbeda. Dalam hal ini kita tidak dapat memberikan jawaban yang pasti. Maharajo Dirajo yang sudah kita bicarakan hanya merupakan perkiraan saja dan belum tentu benar. Tetapi berdasarkan logika berfikir kira-kira diwaktu itulah hidupnya Maharajo Dirajo jika dihubungkan dengan nama Iskandar Zulkarnain. Sedangkan Maharajo Dirajo yang sedang dibicarakan sekarang ini adalah seperti yang dikatakan Tambo Alam Minangkabau yang mana yang benar perlu penelitian lebih lanjut. Dalam kesempatan ini kita hanya ingin memperlihatkan betapa rawannya penafsiran dari data yang diberikan Tambo Alam Minangkabau. Maharajo Dirajo yang sekarang dibicarakan adalah Maharajo Dirajo seperti yang dikatakan Tambo. Dalam hal ini kita ingin mengangkat data dari Tambo menjadi Fakta sejarah Minangkabau. Dalam Tambo disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain mempunyai tiga anak, yaitu Maharajo Alif, Maharajo Dipang, dan Maharajo Dirajo. Maharajo Alif menjadi raja di Benua Ruhun (Romawi), tetapi Josselin de Jong mengatakan, menjadi raja di Turki. Maharajo Dipang menjadi raja di negeri Cina, sedangkan Maharajo Dirajo menjadi raja di Pulau Emas (Sumatera). Kalau kita melihat kalimat-kalimat Tambo sendiri, maka dikatakan sebagai berikut: “…Tatkala maso dahulu, batigo rajo naiek nobat, nan sorang Maharajo Alif, nan pai ka banua Ruhun, nan sorang Maharajo Dipang nan pai ka Nagari Cino, nan sorang Maharajo Dirajo manapek ka pulau ameh nan ko…” (pada masa dahulu kala, ada tiga orang yang naik tahta kerajaan, seorang bernama Maharaja Alif yang pergi ke negeri Ruhun, yang seorang Maharajo Dipang yang pergi ke negeri Cina, dan seorang lagi bernama Maharajo Dirajo yang menepat ke pulau Sumatera). Dari keterangan Tambo itu tidak ada dikatakan angka tahunnya hanya dengan istilah “Masa dahulu kala” itulah yang memberikan petunjuk kepada kita bahwa kejadian itu sudah berlangsung sangat lama sekali, sedangkan waktu yang mencakup zaman dahulu kala itu sangat banyak sekali dan tidak ada kepastiannya. Kita hanya akan bertanya-tanya atau menduga-duga dengan tidak akan mendapat jawaban yang pasti. Di kerajaan Romawi atau Cina memang ada sejarah raja-raja yang besar, tetapi raja mana yang dimaksudkan oleh Tambo tidak kita ketahui. Dalam hal ini rupanya Tambo Alam Minangkabau tidak mementingkan angka tahun selain dari mementingkan kebesaran kemasyuran nama-nama rajanya. Percantuman raja Romawi dalam Tambo menurut hemat kita hanya usaha dari pembuat Tambo untuk menyetarakan kemasyhuran raja Minangkabau dengan nama raja di luar negeri yang memang sudah sangat terkenal di seantero penjuru dunia. Dengan mensejajarkan kedudukan raja-raja Minangkabau dengan raja yang sangat terkenal itu maka pandangan rakyat Minangkabau terhadap rajanya sendiri akan semakin tinggi pula. Disini kita bertemu dengan satu kebiasaan dunia Timur untuk mendongengkan tuah kebesaran rajanya kepada anak cucunya. Gelar Maharajo Dirajo sendiri terlepas ada tidaknya raja tersebut, menunjukan kebesaran kekuasaan rajanya, karena istilah itu berarti penguasa sekalian raja-raja yang tunduk di bawah kekuasaannya. Josselin de Jong mengatakan Lord of the Word atau Raja Dunia. Dalam sejarah Indonesia gelar Maharaja Diraja tidak hanya menjadi milik orang Minangkabau saja, melainkan juga ada raja lain yang bergelar demikian seperti Karta Negara dari Singasari dengan gelar Maharaja Diraja seperti yang tertulis pada arca Amogapasa tahun 1286 sebagai atasan dari Darmasraya yang bernama raja Tribuana. Tambo mengatakan bahwa Maharajo Dirajo adalah raja Minangkabau pertama. Tetapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Srimaharaja Diraja yang disebut dalam tambo sebagai raja Minangkabau yang pertama itu tidak lain dari Adityawarman sendiri yang menyebut dirinya dengan Maraja Diraja. Tentang Adityawarman mempergunakan gelar Maharaja Diraja memang semua ahli sudah sependapat, karena Adityawarman sendiri telah menulis demikian dalam prasasti Pagaruyung. Dari gelar Maharaja Diraja yang dipakai Adityawarman menunjukan kepada kita bahwa sewaktu Adityawarman berkuasa di Minangkabau tidak ada lagi kekuasaan lain yang ada di atasnya, atau dengan perkataan lain dapat dikatakan pada waktu itu Minangkabau sudah berdiri sendiri, tidak berada di bawah kekuasaan Majapahit atau sudah melepaskan diri dari Majapahit. Kerajaan Majapahit adalah ahli waris dari Singasari. Sedangkan Singasari pernah menundukkan melayu Darmasraya, tentu berada di bawah kekuasaan Singasari - Majapahit itu, maka untuk melepaskan diri dari Singasari - Majapahit itu Adiyawarman memindahkan pusat kekuasaannya kepedalaman Minangkabau dan menyatakan tidak ada lagi yang berkuasa di atasnya dengan memakai gelar Maharaja Diraja. Ada sesuatu pertanyaan kecil yang perlu dijawab, yaitu apakah tidak ada lagi kemungkinan bahwa gelar Maharajo Dirajo itu merupakan gelar keturunan bagi raja-raja Minangkabau, sehingga diwaktu Adityawarman menjadi raja di Minangkabau dia merasa perlu mempergunakan gelar tersebut agar dihormati oleh rakyat Minangkabau. Kalau memang demikian, maka kita akan dapat menghubungkannya dengan Maharajo Dirajo yang kita bicarakan kehidupannya sebelum abad Masehi. Tetapi hal ini kembali hanya berupa dugaan saja yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Kalau kita mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa Maharaja Diraja itu sama dengan Adityawarman, maka satu kepastian dapat dikatakan bahwa kerajaan Minangkabau baru bermula pad tahun 1347, yaitu pada waktu Adityawarman menjadi raja di Minangkabau yang berpusat di Pagaruyuang. Logikanya tentu sebelum Adityawarman, belum ada raja di Minangkabau, kalau ada baru merupakan daerah-daerahyang dikuasai oleh seorang kepala suku saja. Kalau pendapat itu tidak dapat diterima kebenarannya, maka tokoh Maharajo Dirajo yang disebut di dalam Tambo itu masih tetap merupakan seorang tokoh legendaris dalam sejarah Minangkabau dan hal ini akan tetap mengundang bermacam-macam pertanyaan yang pro dan kontra. Kemungkinan gelar Maharajo sudah dipergunakan sebelum kedatangan Adityawarman memang ada. Tetapi apakah gelar itu merupakan gelar keturunan dari raja-raja Minangkabau masih belum lagi dapat diketahui dengan pasti. Yang jelas pada waktu sekarang ini, banyak gelar para penghulu di Sumatera Barat yang memakai gelar Maharajo sebagai gelar kepenghulunya disamping nama lainnya, seperti Dt. Maharajo, Dt. Marajo, Dt. Maharajo Basa, Dt. Maharajo Dirajo. Kelihatan gelar tersebut dipergunakan oleh masyarakat Minangkabau sebagai gelar pusaka yang turun-menurun. Sebaliknya raja-raja Pagaruyung sendiri tidak mempergunakan gelar tersebut sebagai pusaka kerajaannya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa gelar Maharajo Dirajo tersebut merupakan gelar pusaka Minangkabau dan sudah ada sebelum Adityawarman menjadi raja di Pagaruyung. Barangkali memang gelar itu diturunkan dari Maharajo dirajo seperti disebutkan dalam Tambo itu.

Tinggi badan ideal adalah dambaan setiap orang. Banyak orang melakukan olahraga , minum obat peninggi badan, sampai melakukan operasi untuk mendapatkan tinggi badan yang ideal. Pertumbuhan biasanya akan terhenti setelah berumur 21-25 tahun pada pria. Lalu untuk wanita pertumbuhannya berhenti pada umur 21 tahun. Bagi yang masih dalam masa pertumbuhan, bagaimana sih agar bisa mendapatkan tinggi badan yang ideal? Berikut ini adalah 3 jenis makanan untuk membantu meninggikan badan.

Tinggi badan ideal adalah dambaan setiap orang. Banyak orang melakukan olahraga , minum obat peninggi badan, sampai melakukan operasi untuk mendapatkan tinggi badan yang ideal. Pertumbuhan biasanya akan terhenti setelah berumur 21-25 tahun pada pria. Lalu untuk wanita pertumbuhannya berhenti pada umur 21 tahun. Bagi yang masih dalam masa pertumbuhan, bagaimana sih agar bisa mendapatkan tinggi badan yang ideal? Berikut ini adalah 3 jenis makanan untuk membantu meninggikan badan.

1. Makanan Berprotein
Protein membantu membantu merangsang pertumbuhan otot dan jaringan lemak. Protein sangat penting bagi yang dalam masa proses pertumbuhan. Anak-anak antara usia 1-3 tahun butuh 13 gram protein tiap harinya, dan anak usia 4-8 tahun membutuhkan 19 gram setiap hari. Anak-anak usia 9-13 tahun membutuhkan 34 gram. 52 gram bagi remaja pria dan 46 gram bagi remaja wanita.

Tubuh pun ternyata masih membutuhkan protein walaupun sudah lewat usia pertumbuhan untuk membangun sel-sel yang telah rusak. Wanita dewasa membutuhkan sekitar 46 gram protein dan pria membutuhkan sekitar 56 gram tiap harinya.

Makanan yang mengandung protein yaitu seperti daging ayam, sapi dan ikan. Lalu susu, kacang-kacangan dan telur.

2. Buah dan sayuran
Buah dan sayuran mengandung mineral dan vitamin yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan dan merangsang pertumbuhan badan.

3. Susu dan biji-bijian
Tubuh sangat membutuhkan kalsium dalam proses pertumbuhan. Karena tulang yang kuat sangat berpengaruh pada tinggi badan. Anak-anak usia 2-3 tahun membutuhkan 1 cangkir susu setiap hari dan anak usia 4-8 butuh 1,5 cangkir susu. Sedangkan anak usia remaja dan orang dewasa membutuhkan 3 cangkir susu setiap harinya.

Sedangkan biji-bijian mengandung energei yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh. Biji-bijian seperti oatmeal, roti gandum dan beras merah.

Selengkapnya tentang tinggi badan silahkan baca cara alami untuk menambah tinggi badan disini

Lalu bagaimana cara menghitung tinggi badan yang ideal. Berikut ini rumusnya

Berat badan + 110 = tinggi ideal

Misal seorang pria memiliki tinggi badan 167 cm dan berat badan 60 kg. Perhitungannya adalah

60 + 110 = 170

Toleransi adalah lebih atau kurang 5cm. Jika ia memiliki tinggi badan 167 cm, berarti ia termasuk memiliki tinggi badan ideal.

Manfaat buah anggur untuk diet : Banyak alternatif buah-buahan yang bisa anda jadikan sebagai alternatif untuk dapat menjadikan

Manfaat buah anggur untuk diet : Banyak alternatif buah-buahan yang bisa anda jadikan sebagai alternatif untuk dapat menjadikan tubuh langsing dan menjaga berat badan tetap ideal. Salah satunya adalah buah anggur. Mengkonsumsi buah anggur secara rutin dan teratur terbukti bisa untuk membantu menurunkan berat badan dan menjaganya agar tetap ideal.

Manfaat buah anggur untuk turunkan badan dan tekan obesitas

Sebuah penelitian untuk dapat mengetahui manfaat buah anggur telah dilakukan oleh dua ilmuan dari Purdue Uneversity yaitu Kee-Hong Kim dan Jung Yeon Kwon. Mereka telah menemukan bahwa senyawa dalam minuman anggur merah, buah anggur dan beberapa jenis buah lainya yang mirip dengan struktur resveratrol. Senyawa ini telah mampu memblok proses seluler yang memungkinkan sel-sel lemak untuk berkembang.

Kedua ilmuan tersebut juga telah melaporkan bahwa dalam anggur terdapat senyawa piceatannol yang telah memiliki kemampuan untuk memblok sel lemak yang belum matang untuk tumbuh dan berkembang. Piceatannol ini juga baik untuk kesehatan tubuh karena dipercaya mampu untuk memerangi kanker, penyakit jantung dan penyakit neurodegeratif. Para ilmuan-pun juga berpendapat, bahwa piceatannol mungkin dapat menjadi salah satu “senjata penting” untuk melawan obesitas

Peranan Piceatannol untuk penderita obesitas

Piceatannol juga merupakan hasil dari perubahan Resveratrol. Perubahan ini telah terjadi dalam tubuh manusia setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung senyawa tersebut.

Piceatannol telah memiliki kemampuan untuk dapat merubah ekspresi gen, fungsi gen dan kerja insulin selama adipogenesis yaitu proses awal sel lemak berubah menjadi sel lemak matang. Dengan keberadaan piceatannol, maka proses adipogenesis dapat ditunda atau dihambat.

Kim juga menerangkan, selama periode 10 hari atau lebih, sel-sel lemak yang ada di dalam tubuh biasanya belum terlalu matang, fase ini disebut preadipocytes. Namun setelah melalui beberapa tahapan, sel-sel lemak itu berubah menjadi matang, atau biasa disebut adipocytes.

"Kami juga menganggap, proses adipogenesis adalah target yang tepat untuk menunda atau mencegah akumulasi sel lemak," katanya.

Kim juga menambahkan, piceatannol mampu mengikat reseptor insulin dari sel-sel lemak yang belum matang pada tahap pertama proses adipogenesis. Piceatannol juga bekerja dengan menghalangi jalur sel-sel lemak untuk berproduksi dan tumbuh.

Penelitan tentang Piceatannol yang juga terkandung dalam biji dan kulit anggur, blueberry, markisa dan buah lainnya hingga kini masih dilakukan untuk lebih mengetahui manfaat dan khasiatnya bagi kesehatan tubuh selain dari peranannya untuk dapat menghambat proses pematangan lemak dalam tubuh.

Dengan membaca artikel diatas, tentunya anda tidak perlu ragu lagi untuk meneruskan mengkonsumsi buah anggur, karena manfaat buah anggur untuk diet sudah bisa dibuktikan secara ilmiah.

 

Mr. Pfaff was an international affairs columnist and author who found Washington’s intervention in world affairs often misguided.

Ms. Meadows was the older sister of Audrey Meadows, who played Alice Kramden on “The Honeymooners.”

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

UNITED NATIONS — Wearing pinstripes and a pince-nez, Staffan de Mistura, the United Nations envoy for Syria, arrived at the Security Council one Tuesday afternoon in February and announced that President Bashar al-Assad had agreed to halt airstrikes over Aleppo. Would the rebels, Mr. de Mistura suggested, agree to halt their shelling?

What he did not announce, but everyone knew by then, was that the Assad government had begun a military offensive to encircle opposition-held enclaves in Aleppo and that fierce fighting was underway. It would take only a few days for rebel leaders, having pushed back Syrian government forces, to outright reject Mr. de Mistura’s proposed freeze in the fighting, dooming the latest diplomatic overture on Syria.

Diplomacy is often about appearing to be doing something until the time is ripe for a deal to be done.

 

 

Now, with Mr. Assad’s forces having suffered a string of losses on the battlefield and the United States reaching at least a partial rapprochement with Mr. Assad’s main backer, Iran, Mr. de Mistura is changing course. Starting Monday, he is set to hold a series of closed talks in Geneva with the warring sides and their main supporters. Iran will be among them.

In an interview at United Nations headquarters last week, Mr. de Mistura hinted that the changing circumstances, both military and diplomatic, may have prompted various backers of the war to question how much longer the bloodshed could go on.

“Will that have an impact in accelerating the willingness for a political solution? We need to test it,” he said. “The Geneva consultations may be a good umbrella for testing that. It’s an occasion for asking everyone, including the government, if there is any new way that they are looking at a political solution, as they too claim they want.”

He said he would have a better assessment at the end of June, when he expects to wrap up his consultations. That coincides with the deadline for a final agreement in the Iran nuclear talks.

Advertisement

Whether a nuclear deal with Iran will pave the way for a new opening on peace talks in Syria remains to be seen. Increasingly, though, world leaders are explicitly linking the two, with the European Union’s top diplomat, Federica Mogherini, suggesting last week that a nuclear agreement could spur Tehran to play “a major but positive role in Syria.”

It could hardly come soon enough. Now in its fifth year, the Syrian war has claimed 220,000 lives, prompted an exodus of more than three million refugees and unleashed jihadist groups across the region. “This conflict is producing a question mark in many — where is it leading and whether this can be sustained,” Mr. de Mistura said.

Part Italian, part Swedish, Mr. de Mistura has worked with the United Nations for more than 40 years, but he is more widely known for his dapper style than for any diplomatic coups. Syria is by far the toughest assignment of his career — indeed, two of the organization’s most seasoned diplomats, Lakhdar Brahimi and Kofi Annan, tried to do the job and gave up — and critics have wondered aloud whether Mr. de Mistura is up to the task.

He served as a United Nations envoy in Afghanistan and Iraq, and before that in Lebanon, where a former minister recalled, with some scorn, that he spent many hours sunbathing at a private club in the hills above Beirut. Those who know him say he has a taste for fine suits and can sometimes speak too soon and too much, just as they point to his diplomatic missteps and hyperbole.

They cite, for instance, a news conference in October, when he raised the specter of Srebrenica, where thousands of Muslims were massacred in 1995 during the Balkans war, in warning that the Syrian border town of Kobani could fall to the Islamic State. In February, he was photographed at a party in Damascus, the Syrian capital, celebrating the anniversary of the Iranian revolution just as Syrian forces, aided by Iran, were pummeling rebel-held suburbs of Damascus; critics seized on that as evidence of his coziness with the government.

Mouin Rabbani, who served briefly as the head of Mr. de Mistura’s political affairs unit and has since emerged as one of his most outspoken critics, said Mr. de Mistura did not have the background necessary for the job. “This isn’t someone well known for his political vision or political imagination, and his closest confidants lack the requisite knowledge and experience,” Mr. Rabbani said.

As a deputy foreign minister in the Italian government, Mr. de Mistura was tasked in 2012 with freeing two Italian marines detained in India for shooting at Indian fishermen. He made 19 trips to India, to little effect. One marine was allowed to return to Italy for medical reasons; the other remains in India.

He said he initially turned down the Syria job when the United Nations secretary general approached him last August, only to change his mind the next day, after a sleepless, guilt-ridden night.

Mr. de Mistura compared his role in Syria to that of a doctor faced with a terminally ill patient. His goal in brokering a freeze in the fighting, he said, was to alleviate suffering. He settled on Aleppo as the location for its “fame,” he said, a decision that some questioned, considering that Aleppo was far trickier than the many other lesser-known towns where activists had negotiated temporary local cease-fires.

“Everybody, at least in Europe, are very familiar with the value of Aleppo,” Mr. de Mistura said. “So I was using that as an icebreaker.”

The cease-fire negotiations, to which he had devoted six months, fell apart quickly because of the government’s military offensive in Aleppo the very day of his announcement at the Security Council. Privately, United Nations diplomats said Mr. de Mistura had been manipulated. To this, Mr. de Mistura said only that he was “disappointed and concerned.”

Tarek Fares, a former rebel fighter, said after a recent visit to Aleppo that no Syrian would admit publicly to supporting Mr. de Mistura’s cease-fire proposal. “If anyone said they went to a de Mistura meeting in Gaziantep, they would be arrested,” is how he put it, referring to the Turkish city where negotiations between the two sides were held.

Secretary General Ban Ki-moon remains staunchly behind Mr. de Mistura’s efforts. His defenders point out that he is at the center of one of the world’s toughest diplomatic problems, charged with mediating a conflict in which two of the world’s most powerful nations — Russia, which supports Mr. Assad, and the United States, which has called for his ouster — remain deadlocked.

R. Nicholas Burns, a former State Department official who now teaches at Harvard, credited Mr. de Mistura for trying to negotiate a cease-fire even when the chances of success were exceedingly small — and the chances of a political deal even smaller. For his efforts to work, Professor Burns argued, the world powers will first have to come to an agreement of their own.

“He needs the help of outside powers,” he said. “It starts with backers of Assad. That’s Russia and Iran. De Mistura is there, waiting.”

Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

From sea to shining sea, or at least from one side of the Hudson to the other, politicians you have barely heard of are being accused of wrongdoing. There were so many court proceedings involving public officials on Monday that it was hard to keep up.

In Newark, two underlings of Gov. Chris Christie were arraigned on charges that they were in on the truly deranged plot to block traffic leading onto the George Washington Bridge.

Ten miles away, in Lower Manhattan, Dean G. Skelos, the leader of the New York State Senate, and his son, Adam B. Skelos, were arrested by the Federal Bureau of Investigation on accusations of far more conventional political larceny, involving a job with a sewer company for the son and commissions on title insurance and bond work.

The younger man managed to receive a 150 percent pay increase from the sewer company even though, as he said on tape, he “literally knew nothing about water or, you know, any of that stuff,” according to a criminal complaint the United States attorney’s office filed.

The success of Adam Skelos, 32, was attributed by prosecutors to his father’s influence as the leader of the Senate and as a potentate among state Republicans. The indictment can also be read as one of those unfailingly sad tales of a father who cannot stop indulging a grown son. The senator himself is not alleged to have profited from the schemes, except by being relieved of the burden of underwriting Adam.

The bridge traffic caper is its own species of crazy; what distinguishes the charges against the two Skeloses is the apparent absence of a survival instinct. It is one thing not to know anything about water or that stuff. More remarkable, if true, is the fact that the sewer machinations continued even after the former New York Assembly speaker, Sheldon Silver, was charged in January with taking bribes disguised as fees.

It was by then common gossip in political and news media circles that Senator Skelos, a Republican, the counterpart in the Senate to Mr. Silver, a Democrat, in the Assembly, could be next in line for the criminal dock. “Stay tuned,” the United States attorney, Preet Bharara said, leaving not much to the imagination.

Even though the cat had been unmistakably belled, Skelos father and son continued to talk about how to advance the interests of the sewer company, though the son did begin to use a burner cellphone, the kind people pay for in cash, with no traceable contracts.

That was indeed prudent, as prosecutors had been wiretapping the cellphones of both men. But it would seem that the burner was of limited value, because by then the prosecutors had managed to secure the help of a business executive who agreed to record calls with the Skeloses. It would further seem that the business executive was more attentive to the perils of pending investigations than the politician.

Through the end of the New York State budget negotiations in March, the hopes of the younger Skelos rested on his father’s ability to devise legislation that would benefit the sewer company. That did not pan out. But Senator Skelos did boast that he had haggled with Gov. Andrew M. Cuomo, a Democrat, in a successful effort to raise a $150 million allocation for Long Island to $550 million, for what the budget called “transformative economic development projects.” It included money for the kind of work done by the sewer company.

The lawyer for Adam Skelos said he was not guilty and would win in court. Senator Skelos issued a ringing declaration that he was unequivocally innocent.

THIS was also the approach taken in New Jersey by Bill Baroni, a man of great presence and eloquence who stopped outside the federal courthouse to note that he had taken risks as a Republican by bucking his party to support paid family leave, medical marijuana and marriage equality. “I would never risk my career, my job, my reputation for something like this,” Mr. Baroni said. “I am an innocent man.”

The lawyer for his co-defendant, Bridget Anne Kelly, the former deputy chief of staff to Mr. Christie, a Republican, said that she would strongly rebut the charges.

Perhaps they had nothing to do with the lane closings. But neither Mr. Baroni nor Ms. Kelly addressed the question of why they did not return repeated calls from the mayor of Fort Lee, N.J., begging them to stop the traffic tie-ups, over three days.

That silence was a low moment. But perhaps New York hit bottom faster. Senator Skelos, the prosecutors charged, arranged to meet Long Island politicians at the wake of Wenjian Liu, a New York City police officer shot dead in December, to press for payments to the company employing his son.

Sometimes it seems as though for some people, the only thing to be ashamed of is shame itself.

Even as a high school student, Dave Goldberg was urging female classmates to speak up. As a young dot-com executive, he had one girlfriend after another, but fell hard for a driven friend named Sheryl Sandberg, pining after her for years. After they wed, Mr. Goldberg pushed her to negotiate hard for high compensation and arranged his schedule so that he could be home with their children when she was traveling for work.

Mr. Goldberg, who died unexpectedly on Friday, was a genial, 47-year-old Silicon Valley entrepreneur who built his latest company, SurveyMonkey, from a modest enterprise to one recently valued by investors at $2 billion. But he was also perhaps the signature male feminist of his era: the first major chief executive in memory to spur his wife to become as successful in business as he was, and an essential figure in “Lean In,” Ms. Sandberg’s blockbuster guide to female achievement.

Over the weekend, even strangers were shocked at his death, both because of his relatively young age and because they knew of him as the living, breathing, car-pooling center of a new philosophy of two-career marriage.

“They were very much the role models for what this next generation wants to grapple with,” said Debora L. Spar, the president of Barnard College. In a 2011 commencement speech there, Ms. Sandberg told the graduates that whom they married would be their most important career decision.

In the play “The Heidi Chronicles,” revived on Broadway this spring, a male character who is the founder of a media company says that “I don’t want to come home to an A-plus,” explaining that his ambitions require him to marry an unthreatening helpmeet. Mr. Goldberg grew up to hold the opposite view, starting with his upbringing in progressive Minneapolis circles where “there was woman power in every aspect of our lives,” Jeffrey Dachis, a childhood friend, said in an interview.

The Goldberg parents read “The Feminine Mystique” together — in fact, Mr. Goldberg’s father introduced it to his wife, according to Ms. Sandberg’s book. In 1976, Paula Goldberg helped found a nonprofit to aid children with disabilities. Her husband, Mel, a law professor who taught at night, made the family breakfast at home.

Later, when Dave Goldberg was in high school and his prom date, Jill Chessen, stayed silent in a politics class, he chastised her afterward. He said, “You need to speak up,” Ms. Chessen recalled in an interview. “They need to hear your voice.”

Years later, when Karin Gilford, an early employee at Launch Media, Mr. Goldberg’s digital music company, became a mother, he knew exactly what to do. He kept giving her challenging assignments, she recalled, but also let her work from home one day a week. After Yahoo acquired Launch, Mr. Goldberg became known for distributing roses to all the women in the office on Valentine’s Day.

Ms. Sandberg, who often describes herself as bossy-in-a-good-way, enchanted him when they became friendly in the mid-1990s. He “was smitten with her,” Ms. Chessen remembered. Ms. Sandberg was dating someone else, but Mr. Goldberg still hung around, even helping her and her then-boyfriend move, recalled Bob Roback, a friend and co-founder of Launch. When they finally married in 2004, friends remember thinking how similar the two were, and that the qualities that might have made Ms. Sandberg intimidating to some men drew Mr. Goldberg to her even more.

Over the next decade, Mr. Goldberg and Ms. Sandberg pioneered new ways of capturing information online, had a son and then a daughter, became immensely wealthy, and hashed out their who-does-what-in-this-marriage issues. Mr. Goldberg’s commute from the Bay Area to Los Angeles became a strain, so he relocated, later joking that he “lost the coin flip” of where they would live. He paid the bills, she planned the birthday parties, and both often left their offices at 5:30 so they could eat dinner with their children before resuming work afterward.

Friends in Silicon Valley say they were careful to conduct their careers separately, politely refusing when outsiders would ask one about the other’s work: Ms. Sandberg’s role building Facebook into an information and advertising powerhouse, and Mr. Goldberg at SurveyMonkey, which made polling faster and cheaper. But privately, their work was intertwined. He often began statements to his team with the phrase “Well, Sheryl said” sharing her business advice. He counseled her, too, starting with her salary negotiations with Mark Zuckerberg.

“I wanted Mark to really feel he stretched to get Sheryl, because she was worth it,” Mr. Goldberg explained in a 2013 “60 Minutes” interview, his Minnesota accent and his smile intact as he offered a rare peek of the intersection of marriage and money at the top of corporate life.

 

 

While his wife grew increasingly outspoken about women’s advancement, Mr. Goldberg quietly advised the men in the office on family and partnership matters, an associate said. Six out of 16 members of SurveyMonkey’s management team are female, an almost unheard-of ratio among Silicon Valley “unicorns,” or companies valued at over $1 billion.

When Mellody Hobson, a friend and finance executive, wrote a chapter of “Lean In” about women of color for the college edition of the book, Mr. Goldberg gave her feedback on the draft, a clue to his deep involvement. He joked with Ms. Hobson that she was too long-winded, like Ms. Sandberg, but aside from that, he said he loved the chapter, she said in an interview.

By then, Mr. Goldberg was a figure of fascination who inspired a “where can I get one of those?” reaction among many of the women who had read the best seller “Lean In.” Some lamented that Ms. Sandberg’s advice hinged too much on marrying a Dave Goldberg, who was humble enough to plan around his wife, attentive enough to worry about which shoes his young daughter would wear, and rich enough to help pay for the help that made the family’s balancing act manageable.

Now that he is gone, and Ms. Sandberg goes from being half of a celebrated partnership to perhaps the business world’s most prominent single mother, the pages of “Lean In” carry a new sting of loss.

“We are never at 50-50 at any given moment — perfect equality is hard to define or sustain — but we allow the pendulum to swing back and forth between us,” she wrote in 2013, adding that they were looking forward to raising teenagers together.

“Fortunately, I have Dave to figure it out with me,” she wrote.

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

Mr. Napoleon was a self-taught musician whose career began in earnest with the orchestra led by Chico Marx of the Marx Brothers.