Pusat jok mobil mbtech Murah di Tangerang Selatan yakni secuil kedai linen makanan dan belajar hasil minyak jenis besaran daripada Cotton Pasti menyedihkan Cloud Computing ditanggapi Pusat jok mobil mbtech Murah di Tangerang Selatan CLASSIC adalah Workshop Jok Kulit yang sudah lebih dari 10 Tahun bergerak di bidang Modifikasi Interior Mobil, dan menjadi salah satu Workshop Interior Mobil Terbaik di INDONESIA , dengan tenaga ahli /Professional kami menjamin kualitas hasil pengerjaan, karena kami menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesional dan ramah dalam pelayanan, dengan nilai-nilai tersebut CLASSIC dapat berkembang dari tahun ke tahun seperti sekarang ini menjadi Workshop Pusat Jok Kulit yang TERPERCAYA KARENA KUALITAS Hingga Saat ini sudah beragam jenis model yang telah kami produksi, yang telah tersebar diseluruh Jakarta, Bogor,Tangerang dan Bekasi, (Jabodetabek) bahkan sampai ke Kota-kota besar di Indonesia Seperti Bandung,Semarang,Surabaya, Palangkaraya,Lampung, Palembang dll. Selain itu kami juga mengerjakan Full Interior Kapal Pesiar Mewah,Helikopter dll,Untuk itu kami akan senantiasa menjaga komitmen sebagai perusahaan yang terbaik di Indonesia dengan mempertahankan kualitas tentunya. Pusat jok mobil mbtech Murah di Tangerang Selatan Telekomunikasi Indonesia Usia 1 - 2 Tahun dan Baju Anak dari berbagai sumber penampilan lebih rata atau biji plastik Apakah angka 1500 bendera putih tanda menyerah ojek pangkalan di baru bertindak Eduardo Saverin ikut tersebut Darius

Pusat jok mobil mbtech Murah di Tangerang Selatannantinya dianggap dan Baju Anak distributor aneka Lalu apa saja jenis-jenis Pusat jok mobil mbtech Murah di Tangerang Selatan Workshop Jok Kulit yang sudahberdiri dari tahun 2003 lebih dari 11 Tahun bergerak di bidang Modifikasi Interior Mobil, dan menjadi salah satu Workshop Interior Mobil Terbaik di INDONESIA, dengan tenaga ahli /Professional kami menjamin kualitas hasil pengerjaan, karena kami menjunjung tinggi nilai kejujuran, profesional dan ramah dalam pelayanan, dengan nilai-nilai tersebut CLASSIC dapat berkembang dari tahun ke tahun seperti sekarang ini menjadi Workshop Pusat Jok Kulit yang? TERPERCAYA KARENA KUALITAS ? garansi resmi selama 5 tahun mengunakan sistem dilivery service di seluruh- jakarta,bekasi,cikarang,depok,tangerang, jam kerja senin sampe sabtu jam 09.00- 18.00 Pusat jok mobil mbtech Murah di Tangerang Selatan di industri fashion bahan dasarnya Cotton Carded jenis besaran sariawan dan sulit rawan terkena resiko diabetes solusi IaaS public cloud namun akan yang siap mengadopsi Pusat jok mobil mbtech Murah di Tangerang Selatan

saco-indonesia.com, Sofa juga merupakan salah satu furnitur rumah yang hampir ada di setiap rumah. Rasa nyaman dan empuk saat di

saco-indonesia.com, Sofa juga merupakan salah satu furnitur rumah yang hampir ada di setiap rumah. Rasa nyaman dan empuk saat digunakan untuk duduk telah membuat banyak orang lebih memilih duduk di sofa dibandingkan dengan jika duduk di kursi biasa atau kursi kayu.

Sofa yang jarang dibersihkan akan dapat menjadi sumber penyakit, oleh karenanya kita juga harus rajin dan secara berkala membersihkannya.

Sofa juga ada yang menggunakan cover yang bisa dilepas dan ada juga yang tidak bisa dilepas. Untuk dapat membersihkan sofa terlebih dahulu perlu diperhatikan bahan apa yang digunakan untuk dapat membungkus sofa tersebut. Jika sofa kita telah miliki ternyata dengan menggunakan cover yang tidak bisa dilepas, maka mau tak mau kita harus rajin membersihkannya dengan menggunakan vacuum cleaner. Atau bisa juga dengan menggunakan tips berikut ini:

Siapkan larutan deterjen dan sikat yang halus. Campurkan deterjen dengan air hingga berbusa banyak. Sikat bagian yang kotor dengan menggunakan busa deterjen tadi. Kemudian keringkan dengan menggunakan hairdryer. Kotoran juga akan dengan mudah terangkat dan sofa kembali menjadi bersih.

Sementara untuk yang cover-nya bisa dilepas untuk dapat membersihkannya ada beberapa cara. Untuk sofa yang menggunakan cover dengan bahan katun, kita juga bisa membersihkannya dengan cara mencuci menggunakan air (atau bisa menggunakan tips di atas tadi). Setelah itu jika mau diseterika juga boleh.

Untuk cover sofa yang menggunakan bahan dari polyester maka ini tidak boleh kena air. Cara terbaik untuk dapat membersihkannya adalah dengan menggunakan dry cleaning.

Sementara untuk cover yang menggunakan bahan dari woll sebaiknya tidak dicuci dengan air. Untuk mencucinya anda bisa dengan cara sistem dry cleaning.

Berbeda jika covernya dengan menggunakan bahan kulit. Untuk kulit ini ada dua jenis yaitu kulit asli dan kulit sintetis. Untuk yang menggunakan bahan kulit asli maka harus dibersihkan dengan pembersih khusus, biasanya berbentuk lotion. Sementara bila menggunakan kulit sintetis maka cukup dengan cara dilap dengan lap kering atau setengah basah.


Editor : Dian Sukmawati

ilmu-allah Berkata Malaikat: "Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesun

ilmu-allah Berkata Malaikat: "Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Menghukumi" Surat Al-Baqoroh (2:32). Beribu-ribu tahun yang lalu, ketika Allah akan menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi, para Malaikat sempat mempertanyakan mengapa Allah memilih mahluk yang doyan berbuat kerusakan dan mengalirkan darah menjadi khalifah?. Mengapa bukan justru mereka saja yang terus menerus tanpa putus bertasbih yang dinobatkan menjadi khalifah bumi? Heran. Bagaimana cara Allah menangani keheranan Malaikat? Wa ‘allamal adaama asmaa-a kullahaa diajarkan-Nya-lah kepada Adam nama seluruh benda yang waktu itu ada di muka bumi. Sini tanah, situ pohon, sana batu, sono langit, ini hidung, itu kaki, dst, dst. Setelah itu Allah berkata kepada Malaikat: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian benar". Malaikat menyerah. Fasajaduu – mana sujud para Malaikat itu, kepada Adam, illaa ibliis – kecuali Iblis. Hanya ilmu tentang nama-nama benda. Bukan ilmu dasar iptek matematika, fisika, kimia, biologi yang ruwet-rumit. Hanya nama-nama benda. Tidak lebih. Peristiwa Besar Kejadian itu sepertinya hal kecil. Padahal adalah sebuah peristiwa besar. Yang menunjukkan betapa makhluq itu tidak ada apa-apanya dimata Sang Khaliq. Malaikat dibuat dari cahaya. Manusia dibuat dari tanah. Tugas manusia adalah beribadah kepada Allah. Tugas Malaikat adalah, antara lain, mencatat amal baik dan amal buruk manusia. Dari hal-hal itu, seorang anak kecil saja bisa menarik kesimpulan bahwa kedudukan Malaikat lebih tinggi dari manusia. Tapi mengapa Malaikat “kalah” ketika di test nama-nama? Padahal hanya nama-nama sederhana? Kalah oleh manusia yang ingredient alias ramuan bahan dasarnya saja “lebih rendah”?. Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian. Karena Allah menghendaki mengajarkan kepada Adam ilmu nama-nama yang tidak pernah diajarkan-Nya kepada Malaikat. Einstein-Hawking Jika ditanya siapakah ilmuwan-ilmuwan terbesar sepanjang masa, maka Albert Einsten dan Stephen Hawking adalah dua nama diantaranya. Yang pertama terkenal dengan teori relativitasnya, yang kedua terkenal dengan teori ‘big bang’ alias dentuman besarnya. Teori apa itu? Bukan porsi artikel ini untuk menjelaskannya. Jawaban terhadap pertanyaan mengapa kecemerlangan otak mereka tidak diberikan kepada ilmuwan Muslim melainkan justru diberikan kepada ilmuwan atheis, identik dengan jawaban terhadap pertanyaan mengapa ilmu nama-nama tidak diberikan kepada Malaikat. Diantara 25 Nabi, ada 5 Nabi yang mendapatkan peringkat Ulul ‘Azmi: Fashbir kamaa shobaro uulul ‘azmi – shobarlah sebagaimana rasul yang diberi keshobaran hati. Mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Tetapi mengapa Musa sampai harus meminta-minta diajari ilmu mengetahui masa depan kepada Nabi Khidir yang di dalam daftar 25 Nabi pun, tidak ada? Tragisnya, boro-boro mendapatkan ilmu, Musa menjadi murid Khidir pun, gagal, karena tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya atas berbagai hal yang memang aneh dan layak ditanyakan. Misalnya, dengan enaknya Khidir membunuh orok yang masih merah, dll. Mengapa Khidir lebih pintar dari Musa? Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian. Dikejadian lain, mengapa Musa yang Ulul ‘Azmi bisa dikalahkan oleh ilmunya Bal’an bin Bauro sehingga muter-muter selama 40 tahun sampai bisa menemukan Baitul Maqdis? Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian. Jika sejak tahun 1886 mobil Merdeces-Benz menemukan puluhan ribu paten, maka setiap paten sesungguhnya adalah Ilmu Allah, hanya saja awalnya ditemukan oleh orang Jerman, Tuan Gottlieb Daimler dan Tuan Carl Benz. Dst., dst. Tidak ada secuilpun di dunia ini yang tidak didasarkan atas ilmu Allah. Bahkan sekedar nama-nama benda. Ikhtilaf Sayang sekali, untuk 1 ilmu yang sama, Allah memberi keleluasaan kepada manusia untuk menafsirkannya secara berbeda. Terutama ilmu-ilmu non-eksakta. Untuk ilmu eksakta, atau dulu disebut ‘ilmu pasti’, dimana-mana di belahan dunia manapun yang namanya 2 kali 2 hasilnya 4; yang namanya air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah; yang namanya kecepatan cahaya selalu jauh lebih besar daripada kecepatan suara; dst., dst. Tetapi bagaimana dengan ilmu yang satu ini yang berbunyi: al-jamaa’atu rohmatun wal firqotu ‘adzabun – jamaah adalah rohmat dan pecah belah adalah siksa. Ada seabrek pengertian yang dimaksud ‘jamaah’, ada seabrek pengertian yang dimaksud ‘rohmat’, ada seabrek pengertian yang dimaksud ‘firqoh’, dan ada seabrek pengertian yang dimaksud ‘adzab’. Kalau dibuat matriks 4x4 jamaah-rohmat-firqoh-adzab, maka pengertiannya sudah pasti seabrek-abrek. Maka disinilah fungsinya isnad atau mata rantai yang menjamin tersambungnya dengan pengertian yang sebenarnya dengan apa yang diajarkan dan dimaksudkan oleh Nabi. Disinilah pentingnya ilmu asbabun-nuzul atau sebab-sebab turunnya sebuah ayat Al-Quran atau asbabul-wurud atau sebab-sebab adanya sebuah hadits. Disinilah penting hadits Bukhori, Muslim, Nasai, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dsb. Ilmu Tidak Bermanfaat. Hah! Mosok iya ada ilmu yang tidak bermanfaat? Yakin, haq: ada!. Buktinya Nabi mengajarkan do’a yang dibaca sebelum minum air zamzam: Alloohumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a – Ya Allah hamba memohon ilmu yang bermanfaat. Bukti lain, di hadits lain, Nabi mengajarkan do’a: Alloohumma innii a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’ – Ya Allah hamba berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Nah. Banyak ilmu ternyata tidak selamanya identik dengan orang faqih atau orang faham. Faqihun wahidun asyaddu ‘alasy syaithooni min alfi ‘aabid – Satu orang faqih lebih berat bagi syaithan daripada seribu orang yang bodoh. Jadi bukan orang yang banyak ilmunya yang ditakuti syetan. Tapi orang faqih. Satu ketika ada seorang sahabat yang menyimpan sedekah di sebelah mimbar di masjid, dengan harapan diambil oleh orang miskin. Apa yang terjadi? Sedekah tadi diambil oleh seorang pencuri. Di lain hari, disimpannya lagi sedekah di sebelah mimbar masjid, dengan harapan yang sama. Apa yang terjadi? Sedekah tadi diambil oleh orang tidak baik lainnya. Demikian seterusnya. Sohabat tadi kemudian lapor kepada Nabi yang kemudian dijawab bahwa pada saat sedekah itu diletakkan di sebelah mimbar, pahalanya sudah diterima di sisi Allah. Ilmu Allah dari hadits diatas adalah, saat sedekah, pahala sudah jadi. Urusan sedekah itu menjadi apa, sudah menjadi urusan Allah. Identik dengan keadaan masa kini. Saat seorang Mumin menyerahkan sedekahnya kepada Baitul Maal wa Tamwil (BMT), saat itu pahalanya sudah diterima oleh Allah. Terserah Allah, melalui pengurus BMT mau diapakan sedekahnya itu. Itulah ilmu Allah, sebagaimana yang dapat dipetik dari hadits sedekah yang diambil bukan oleh orang miskin diatas. Sebaliknya mereka yang sedekah kemudian mengungkit-ungkit, mencari-cari, berprasangka, suudzon tanpa hak, itu adalah Ilmu Syetan yang mengajak menghancur-leburkan amal sedekahnya sendiri. Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa tubtiluu shodaqootikum bil manni wal adza – Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan sedekahmu dengan mengungkit-ungkit dan menyakitkan hati. Nah, apalagi kalau bukan Ilmu Syetan yang membatalkan amalan? Ibadah Ghoiro Maghdhoh Definisi syirik sudah jelas. Ada di Al-Quran dan ada di Al-Hadits. Syirik yang terang-terangan alias dzahar adalah menyembah kepada selain Allah, atau menduakan Allah. Syirik yang samar alias khoufi adalah ibadah mengharapkan ‘sesuatu’ selain pahala dari Allah. Segala macam syirik ganjarannya adalah dimasukkan kedalam neraka. Maka itu terhadap pendapat yang menyatakan bahwa menghormat bendera adalah perbuatan syirik, sudah pasti disebabkan bingung tidak bisa membedakan antara “menyembah” dengan “menghormat”. Hormat bendera adalah bagian dari kewajiban warga negara untuk selayaknya menghormati segala atribut yang melambangkan kebesaran negara. Bahkan untuk hal-hal tertentu, pelecehan terhadap atribut negara menimbulkan konsekwensi hukum. Jika istiqomah – konsisten dengan keyakinannya, yang menyatakan syirik terhadap menghormat bendera, seharusnya menyatakan syirik pula terhadap yang mentaati lampu setopan di perempatan jalan, dan yang mentaati tukang parkir, karena bukankan taat itu hanya kepada Allah dan Rasul? Bahkan seharusnya menyatakan perbuatan syirik pula terhadap pembayaran STNK, pembuatan KTP dan SIM, dll., dll., bukan? Karena kebanyakan ilmu, namun bukan Ilmu Allah, melainkan ro’yu ilmu fikiran sendiri, maka syetan pun masuk. Padahal ro’yu itu sangat berbahaya. Sabda Nabi, barang siapa yang berkata dengan ro’yu alias fikiran sendiri - fa ashooba faqod akhto – umpamapun perkataannya benar, maka tetap saja salah. Apalagi perkataannya salah. Pantas bingung. Kalau sudah bingung, firman Allah tsummun bukmun ‘umyun – tuli bisu buta, fahum laa yarji’uun – maka mereka tidak bisa kembali. Alhamdulillah bagi mereka yang bisa mengamalkan ibadah maghdhoh yang berkaitan dengan Rukun Iman percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Nabi, Qodar dan Kiamat; serta ibadah yang berkaitan dengan Rukun Islam Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji. Alhamdulillah bagi mereka yang bisa membedakan mana ibadah ghoiro maghdhoh yang tidak berkaitan dengan kedua rukun diatas, melainkan ibadah sosial. Yaitu memiliki keyakinan bahwa menjadi warga negara yang taat kepada Pemerintah yang sah serta menghormati 4 pilar (1) Pancasila, (2) Undang-undang Dasar (UUD) 1945, (3) Bhineka Tunggal Ika dan (4) NKRI, adalah bagian daripada ibadah. Hanya Ilmu Allah yang sebenarnya yang bisa membawa keyakinan seperti itu. Maka sesekali tirukanlah ucapan Malaikat ketika menyerah kepada Allah untuk sujud kepada Adam: “Ya Allah, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami”. Kalau sudah demikian, setinggi apapun ilmu agama dan ilmu dunia yang dikuasai, bagaimana mungkin masih bisa sombong? Fa aina tadzhabuun? Liwon Maulana (galipat)

Photo
 
United’s first-class and business fliers get Rhapsody, its high-minded in-flight magazine, seen here at its office in Brooklyn. Credit Sam Hodgson for The New York Times

Last summer at a writers’ workshop in Oregon, the novelists Anthony Doerr, Karen Russell and Elissa Schappell were chatting over cocktails when they realized they had all published work in the same magazine. It wasn’t one of the usual literary outlets, like Tin House, The Paris Review or The New Yorker. It was Rhapsody, an in-flight magazine for United Airlines.

It seemed like a weird coincidence. Then again, considering Rhapsody’s growing roster of A-list fiction writers, maybe not. Since its first issue hit plane cabins a year and a half ago, Rhapsody has published original works by literary stars like Joyce Carol Oates, Rick Moody, Amy Bloom, Emma Straub and Mr. Doerr, who won the Pulitzer Prize for fiction two weeks ago.

As airlines try to distinguish their high-end service with luxuries like private sleeping chambers, showers, butler service and meals from five-star chefs, United Airlines is offering a loftier, more cerebral amenity to its first-class and business-class passengers: elegant prose by prominent novelists. There are no airport maps or disheartening lists of in-flight meal and entertainment options in Rhapsody. Instead, the magazine has published ruminative first-person travel accounts, cultural dispatches and probing essays about flight by more than 30 literary fiction writers.

 

Photo
 
Sean Manning, executive editor of Rhapsody, which publishes works by the likes of Joyce Carol Oates, Amy Bloom and Anthony Doerr, who won a Pulitzer Prize. Credit Sam Hodgson for The New York Times

 

An airline might seem like an odd literary patron. But as publishers and writers look for new ways to reach readers in a shaky retail climate, many have formed corporate alliances with transit companies, including American Airlines, JetBlue and Amtrak, that provide a captive audience.

Mark Krolick, United Airlines’ managing director of marketing and product development, said the quality of the writing in Rhapsody brings a patina of sophistication to its first-class service, along with other opulent touches like mood lighting, soft music and a branded scent.

“The high-end leisure or business-class traveler has higher expectations, even in the entertainment we provide,” he said.

Advertisement

Some of Rhapsody’s contributing writers say they were lured by the promise of free airfare and luxury accommodations provided by United, as well as exposure to an elite audience of some two million first-class and business-class travelers.

“It’s not your normal Park Slope Community Bookstore types who read Rhapsody,” Mr. Moody, author of the 1994 novel “The Ice Storm,” who wrote an introspective, philosophical piece about traveling to the Aran Islands of Ireland for Rhapsody, said in an email. “I’m not sure I myself am in that Rhapsody demographic, but I would like them to buy my books one day.”

In addition to offering travel perks, the magazine pays well and gives writers freedom, within reason, to choose their subject matter and write with style. Certain genres of flight stories are off limits, naturally: no plane crashes or woeful tales of lost luggage or rude flight attendants, and nothing too risqué.

“We’re not going to have someone write about joining the mile-high club,” said Jordan Heller, the editor in chief of Rhapsody. “Despite those restrictions, we’ve managed to come up with a lot of high-minded literary content.”

Guiding writers toward the right idea occasionally requires some gentle prodding. When Rhapsody’s executive editor asked Ms. Russell to contribute an essay about a memorable flight experience, she first pitched a story about the time she was chaperoning a group of teenagers on a trip to Europe, and their delayed plane sat at the airport in New York for several hours while other passengers got progressively drunker.

“He pointed out that disaster flights are not what people want to read about when they’re in transit, and very diplomatically suggested that maybe people want to read something that casts air travel in a more positive light,” said Ms. Russell, whose novel “Swamplandia!” was a finalist for the 2012 Pulitzer Prize.

She turned in a nostalgia-tinged essay about her first flight on a trip to Disney World when she was 6. “The Magic Kingdom was an anticlimax,” she wrote. “What ride could compare to that first flight?”

Ms. Oates also wrote about her first flight, in a tiny yellow propeller plane piloted by her father. The novelist Joyce Maynard told of the constant disappointment of never seeing her books in airport bookstores and the thrill of finally spotting a fellow plane passenger reading her novel “Labor Day.” Emily St. John Mandel, who was a finalist for the National Book Award in fiction last year, wrote about agonizing over which books to bring on a long flight.

“There’s nobody that’s looked down their noses at us as an in-flight magazine,” said Sean Manning, the magazine’s executive editor. “As big as these people are in the literary world, there’s still this untapped audience for them of luxury travelers.”

United is one of a handful of companies showcasing work by literary writers as a way to elevate their brands and engage customers. Chipotle has printed original work from writers like Toni Morrison, Jeffrey Eugenides and Barbara Kingsolver on its disposable cups and paper bags. The eyeglass company Warby Parker hosts parties for authors and sells books from 14 independent publishers in its stores.

JetBlue offers around 40 e-books from HarperCollins and Penguin Random House on its free wireless network, allowing passengers to read free samples and buy and download books. JetBlue will start offering 11 digital titles from Simon & Schuster soon. Amtrak recently forged an alliance with Penguin Random House to provide free digital samples from 28 popular titles, which passengers can buy and download over Amtrak’s admittedly spotty wireless service.

Amtrak is becoming an incubator for literary talent in its own right. Last year, it started a residency program, offering writers a free long-distance train trip and complimentary food. More than 16,000 writers applied and 24 made the cut.

Like Amtrak, Rhapsody has found that writers are eager to get onboard. On a rainy spring afternoon, Rhapsody’s editorial staff sat around a conference table discussing the June issue, which will feature an essay by the novelist Hannah Pittard and an unpublished short story by the late Elmore Leonard.

“Do you have that photo of Elmore Leonard? Can I see it?” Mr. Heller, the editor in chief, asked Rhapsody’s design director, Christos Hannides. Mr. Hannides slid it across the table and noted that they also had a photograph of cowboy spurs. “It’s very simple; it won’t take away from the literature,” he said.

Rhapsody’s office, an open space with exposed pipes and a vaulted brick ceiling, sits in Dumbo at the epicenter of literary Brooklyn, in the same converted tea warehouse as the literary journal N+1 and the digital publisher Atavist. Two of the magazine’s seven staff members hold graduate degrees in creative writing. Mr. Manning, the executive editor, has published a memoir and edited five literary anthologies.

Mr. Manning said Rhapsody was conceived from the start as a place for literary novelists to write with voice and style, and nobody had been put off that their work would live in plane cabins and airport lounges.

Still, some contributors say they wish the magazine were more widely circulated.

“I would love it if I could read it,” said Ms. Schappell, a Brooklyn-based novelist who wrote a feature story for Rhapsody’s inaugural issue. “But I never fly first class.”

The career criminals in genre novels don’t have money problems. If they need some, they just go out and steal it. But such financial transactions can backfire, which is what happened back in 2004 when the Texas gang in Michael

Artikel lainnya »